SISWA BERMAIN KELERENG DI SEKOLAH,
BOLEHKAH ?

Sempat menjadi dilema saat bagaimana saya harus bertindak terhadap siswa-siswa saya yang membawa dan bermain kelereng di sekolah. Suatu saat saya melarang mereka lalu menyita semua kelereng yang mereka bawa. Tetapi makin dilarang, mereka makin berusaha sembunyi-sembunyi memainkannya. Lalu saya berpikir bagaimana mengarahkan ini, maka saya memikirkan hal-hal berikut:

  1. Jadikan kelereng ini sebagai objek sains

  2. Memberi pemahaman kepada mereka tentang bahaya judi dengan kelereng

  3. Meyakinkan mereka mendapatkan manfaat dari bermain kelereng

Apa sih Kelereng itu?

Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam, umumnya berdiameter ˝ inci (1.25 cm). ada juga yang lebih besar dan lebih kecil.

Kelereng dapat dimainkan sebagai permainan anak dan dikoleksi untuk tujuan nostalgia atau karena warnanya yang estetik. Permainan kelereng ini efektif dimainkan oleh anak – anak sekolah dasar umur 7 tahun.

 

Nama-nama Kelereng

  • Orang Betawi menyebut kelereng dengan nama gundu.

  • Orang Jawa : neker.

  • Di Sunda : kaleci.

  • Palembang : ekar.

  • Banjar : kleker.

  • Perancis : bille (bola kecil)

  • Inggris : marbles atau bowls

  • Belanda : knikkers

  • Arab : afkar

Sejarah Kelereng

Sejak abad ke-12, di Prancis, kelereng sudah dimainkan. Di Inggris ada istilah marbles untuk menyebut kelereng. Marbles sendiri digunakan untuk menyebut kelereng yang terbuat dari marmer yang didatangkan dari Jerman. Namun, jauh sebelumnya anak-anak di Inggris telah akrab menyebutnya dengan bowls atau knikkers. Kelereng populer di Inggris dan negara Eropa lain sejak abad ke-16 hingga 19. Setelah itu baru menyebar ke Amerika. Bahan pembuatnya adalah tanah liat dan diproduksi besar-besaran.

Ada lagi sejarah kelereng yang lebih tua yang terdapat di peradaban Mesir kuno pada tahun 300 SM. Kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa. Pada masa Rowami, permainan Kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan.

Cara Bermain Kelereng

Salah satu cara bermain kelereng yang paling populer adalah mengambar lingkaran kecil di tanah. Semua pemain menaruh sebiji kelereng dalam lingkaran. Lalu masing-masing pemain menaruh kelereng sampai di luar lingkaran. Pemain yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran berhak main dulu. Dia harus mencoba memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai “Striker” untuk memukul kelereng dalam lingkaran sampai keluar lingkaran. Kalau dia berhasil melakukan ini dia berhak untuk menyimpannya.

Kelereng “Striker” ini juga harus tinggal di dalam lingkaran. Kalau tidak, pemilik akan kehilangan kelereng ini. Jika pemain berhasil mengeluarkan sebiji kelereng lawannya dari lingkaran, dia bisa meneruskan pemainnya dan mengeluarkan kelereng “Striker” lawan yang lain. Kalau dia berhasil memukul “Striker” lawan, dia berhak untuk mengambil kelereng itu dan lawannya tidak dapat bermain lagi. Tapi kalau dia tidak berhasil, dia kalah dan pemain berikutnya bisa mulai bermain. Sebaiknya melakukan permainan kelereng itu di tanah yang agak berpasir.

Main Kelereng termasuk Judi ?

Main kelereng bisa jadi termasuk memenuhi unsur judi. Setiap anak yang mau ikut bermain harus punya modal kelereng untuk dipertaruhkan. Nanti siapa yang paling pandai dalam permainan itu, berhak mengambil kelereng peserta lainnya.

Meskipun nilai kelereng tidak seberapa, namun pada hakikatnya bentuk permainan itu adalah sebuah perjudian.

Lain halnya bila permainan ini disepakati di awal hanya sekedar main-mainan, dalam arti kalau ada anak/peserta yang kalah, dia tidak perlu kehilangan kelerengnya, dan yang menang tidak perlu mengambil kelereng milik temannya yang kalah.

Apa Manfaat Bermain Kelereng ?

Manfaat yang didapat anak dari bermain kelereng antara lain :

1. Mengatur Emosi (Relaks)
Bermain kelereng sangat menyenangkan bagi anak. Kesenangan inilah yang memunculkan unsur relaks yang membantu anak keluar sebentar dari rutinitasnya sehari-hari untuk "me-recharge" kembali baterai energinya. Bila energinya sudah kembali penuh, tentu baik sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang serius, seperti belajar.

2. Melatih Kemampuan Motorik
Kegiatan-kegiatan dalam permainan ini, seperti melempar dan menyentil kelereng, dapat melatih keterampilan motorik halus dan kasar di usia sekolah. Makin baik kemampuan motorik, koordinasi visual dan konsentrasinya maka anak pun semakin mahir untuk menembakkan kelereng-kelerengnya.

3. Melatih Kemampuan Berfikir (kognitif)
Kemampuan berpikir anak ikut dirangsang dalam permainan ini. Misalnya, jika ia ingin memenangkan permainan maka harus memecahkan masalah dan menggunakan strategi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.

4. Kemampuan Berkompetensi
Keberhasilan anak menjalani suatu teknik yang lantas memperoleh tanggapan dari para lawan nya merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Adanya perasaan bersaing di usia sekolah sangat penting untuk membentuk perasaan harga diri.

5. Kemampuan Sosial (menjalin pertemanan)
Yang paling penting dari kegiatan bermain adalah bagaimana anak mampu menjalin pertemanan dengan kawan mainnya. Jangan lupa, hubungan pertemanan akan memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari konteks sosial yang lebih luas. Misal, ia jadi belajar bekerja sama, belajar mengatasi konflik ketika terjadi pertengkaran pada saat bermain dengan temannya, serta belajar mengomunikasikan keinginan dan pikirannya.

6. Bersikap Jujur
Anak juga punya kesempatan mengembangkan karakter dan kepribadian yang positif ketika bermain, seperti pentingnya kejujuran dan fairness. Kecintaannya pada nilai-nilai yang benar merupakan landasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain di masa yang akan datang.

 

Kelereng untuk Sains

Sebagai pengelola sekolah sains, saya berpikir keras apakah konsep atau eksperimen sains yang bisa dipraktikkan oleh siswa-siswi dengan memanfaatkan kelereng.

1. Jalur Kelereng
Dengan membuat jalur-jalur yang saling berhubungan, sehingga kelereng bisa melaluinya dari start sampai finish. Makin panjang jalurnya, makin lama perjalanan kelereng itu. Kalau perlu, saat sudah sampai finish, kelereng terangkat lagi, kembali ke titip start lagi.

2. Gasing Kelereng
Mudah saja membuatnya. Rekatkan keempat kelereng mengikuti gambar di samping. Gunakan lem kaca.

 

 

3. Tong Edan Kelereng
Pernah nonton atraksi tong edan? Adegan unik namun berbahaya ini sering dijumpai saat pasar malam. Seseorang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi berputar-putar di dalam tong raksasa. Motor melaju kencang sampai di puncak tong, dan ajaibnya motor tak jatuh atau terguling. Ini menunjukkan keseimbangan antara gaya tarik bumi (gravitasi) dan gaya tolak (sentrifugal).
Sediakan panci yang cukup lebar dan tinggi dan sebutir kelereng. Masukkan kelereng ke dalam panci lalu putar dan goyang panci itu sehingga kelereng berputar-putar searah.
Putar dan goyang lebih kencang sehingga kelereng berputar makin tinggi.

4. Gaya gesek permukaan
Bandingkan menggelindingkan kelereng di lantai keramik dan di tanah berpasir. Mana yang lebih jauh jarak gelindingnya? Mengapa demikian?

5. Akrobat Kelereng
Sediakan dua butir kelereng, dua plastik atua balon, 4 batang lidi tusuk sate, dan tali pengikat secukupnya. Buat rangkaian seperti gambar di samping.

 

 

 

 

(Abdul Fatah, S.Pd)

 

Artikel ini disimpan dalam koleksi materi parenting di www.mutiararahmah.com.

Kembali ke atas | www.mutiararahmah.com