CARA MENDIDIK DAN
MEMPERBAIKI AKHLAK ANAK

Oleh : Hamimah, A.Ma (guru kelas 3A)

 

“Anak adalah amanah, anugerah, dan cobaan. Dia adalah titipan Illahi untuk (sibghah) menjadi generasi  Rabbani.  Karena  anak  pada  hakikatnya  adalah  ibarat  kertas  putih,  sebagaimana  sabda Rasulullah   SAW,   “Setiap   anak   dilahirkan   dalam   keadaan   fitrah,   kedua   orang   tuanyalah   yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi.” (HR Bukhari).

 

Ketahuilah,  bahwa  cara  mendisiplinkan  anak  merupakan  persoalan  yang  paling  penting  dan mendesak  di  antara  yang  lain.  Anak  amanah  bagi  orang  tuanya,  sebab  hatinya  yang  suci  laksana permata tak ternilai yang belum dipakai atau dibentuk. Ia menerima segala bentuk yang ditorehkan dan condong kearah mana saja dicondongkan. Jika diajarkan kebaikan, maka akan didapat kebahagiaan di dunia  dan  akhirat.  Sedangkan  jika  dibiasakan  dan  diajarkan     kejahatan  akan  tumbuh  liar  bagaikan hewan,  tentu  akan  celaka.  Allah  SWT  berfirman,  Peliharalah  dirimu  dan  keluargamu  dari  siksaan  api neraka.  Seorang  ayah  mungkin  berusaha  melindungi  anaknya  di  dunia,  namun  jauh  lebih  penting melindungi  anaknnya  dari  api  neraka.  Caranya  adalah  dengan  mendisiplinkannya,  mendidiknya  dan mengajarinya tentang kebaikan akhlak serta melindunginya dari teman-teman yang berperangai buruk. Tidak  memanjakannya,  dan  tidak  membuatnya  menggandrungi  kemewahan  dan  kemegahan  duniawi. Oleh karena itu, hendaklah orang tua selalu memperhatikan anaknya sejak usia dini sehingga tidak akan diizinkan untuk minum/makan yang berasal dari makanan haram, sehingga tidak diperoleh keberkahan dalam   hidupnya,   yang   dapat   membentuk   wataknya   yang   buruk   sehingga   cenderung   melakukan perbuatan yang tercela.

 

1. Hendaklah  perhatian  ditingkatkan  saat  tanda  kecerdasan  tampak  dalam  diri  anak.  Tanda  yang pertama  adalah  rasa  malu,  sebab  ketika  mulai  merasa  malu  terhadap  perbuatan  tertentu,  inilah karunia  Allah  yang  merupakan  pertanda  baik  yang  menunjukkan  keseimbangan  akhlaknya  dan ketulusan hatinya.

 

2. Hendaklah dididik dari sifat rakus terhadap makanan, misalnya harus mengambil makanan dengan tangan kanannya, mengajarkannya mengucapkan Bismillah ketika mulai makan, makan dari tempat terdekat dengan dirinya, tidak merebut makanan orang lain, serta ditanamkan rasa tidak suka makan makanan  dalam  porsi  yang  besar  karena  banyak  makan  membuat  seseorang  menjadi  tidak  ada bedanya  dengan  hewan.  Kepadanya  harus  ditanamkan  rasa  senang  memberikan  makanan  yang lebih baik untuk orang lain dan dianjurkan untuk bersikap wajar terhadap makanan dan tidak mencela makanan yang kurang enak.

 

3. Hendaknya  ditanamkan  rasa  suka  terhadap  pakaian  putih  daripada  warna  lain  atau  kain  sutera, sehingga terjaga dari kebiasaan hidup mewah, bersenang-senang dan mengenakan pakaian mahal. Sesungguhnya anak yang sejak kecil kurang diperhatikan biasanya akan tumbuh dengan perangai yang  buruk,  pendusta,  pendengki,  keras  kepala,  suka  mencuri,  memfitnah,  bercanda  dan  tertawa berlebihan, licik dan amoral.

 

4. Hendaknya  disibukkan  oleh  kegiatan  mempelajari  Al-Quran,  hadist  dan  riwayat-riwayat  tentang orang-orang yang baik, untuk menumbuhkan dalam jiwanya rasa cinta terhadap orang-orang saleh. Kemudian  ketika  sifat  baik  dan  amal  saleh  ditunjukkan,  maka  harus  diberikan  apresiasi  yang menggembirakan  hatinya.  Tetapi  sebaliknya,  jika  melakukan  hal  yang  buruk,  hendaklah   seakan- akan  diabaikan,  disembunyikan,  tidak  diungkapkan  ke  orang  lain.  Seandainya  ia  mengulangi perbuatan itu sekali lagi, maka harus dimarahi tanpa sepengetahuan orang dan disadarkan bahwa perbuatannya itu cukup serius.

 

5. Hendaklah orangtua tidak terus-menerus memarahi anak, sebab membuatnya kebal akibatnya tetap melakukan perbuatan buruk. Hendaknya seorang ayah menjaga kewibawaan ucapannya dan hanya memarahi  bila tidak ada pilihan lain. Ibulah yang memperingatkan anak dengan menyebut ayahnya.

 

6. Hendaklah dilarang tidur siang hari, karena dapat menimbulkan sikap malas. Harus dibiasakan untuk berjalan, bergerak dan berolahraga pada siang hari sehingga terbebas dari rasa malas.   Janganlah anak dibiarkan gemuk karena akan sulit menjauhi sikap manja. Sebaliknya, hendaknya dibiasakan mengenakan pakaian dan makan makanan sederhana.

 

7. Hendaknya   dilarang   melakukan   sesuatu   secara   diam-diam,   sebab   akan   terbiasa   melakukan perbuatan   buruk.   Hendaknya   dilarang   membanggakan   harta   orangtuanya,   namun   dibiasakan bersikap rendah hati, pemurah dan santun dalam berbicara. Hendaknya dilarang menerima apapun dari anak lain, sebaliknya kepadanya harus diajarkan bahwa kemuliaan terletak pada sikap memberi. Hendaknya  kepada  anak  diajarkan  tentang  keburukan  mencintai  dan  ketamakan  terhadap  emas, perak.

 

8. Hendaklah dibiasakan untuk tidak meludah, menguap atau menyusut ingus di hadapan orang lain, tidak  memunggungi  siapapun,  menyilangkan  kaki,  menopang  dagu  atau  mengganjal  kepalanya dengan  tangannya,  karena  perbuatan  semacam  itu  menunjukkan  kemalasan.  Haruslah  diajari mengenai cara duduk dan dilarang untuk terlalu banyak berbicara. Hendaklah   dilarang bersumpah terhadap sesuatu, baik benar maupun salah. Sebaiknya diajari mendengarkan dengan cermat setiap kali orang yang lebih tua berbicara dan bangkit dari duduknya setiap kali orang yang lebih tua masuk, menyediakan  tempat  untuknya.  Hendaklah  dilarang  berbicara  seenaknya,  mengutuk,  menghina seseorang  atau  bergaul  dengan  orang  yang  demikian.  Kebiasaan  buruk  akan  muncul  dari  teman sepergaulan yang buruk. Dan sesungguhnya prinsip pendidikan adalah menjauhkannya dari teman sepergaulan yang buruk.

 

9. Hendaklah setelah mengikuti pelajaran, agar diizinkan bermain dan diberi kesempatan beristirahat, untuk mencegah anak menguras tenaga untuk selalu belajar yang akan mematikan hatinya, merusak kecerdasannya dan menghambat gairah hidupnya.

 

10.  Hendaknya diajarkan sikap patuh terhadap orangtua, guru dan orang yang lebih tua.

 

Kemudian ketika anak mencapai usia remaja, hendaknya tidak melalaikan kewajiban berwudhu dan shalat serta diperintahkan berpuasa di bulan Ramadhan. Diingatkan bahwa makanan hanya sarana mempertahankan  kesehatan  dan  bahwa  tujuannya  menjadikan  seorang  manusia  kuat  menjalankan ibadah kepada Allah SWT, mengingat tak satupun yang kekal didalamnya serta  kematian akan memutus kenikmatannya.  Sesungguhnya,  dunia  hanyalah  tempat  persinggahan,  bukan  tempat  tinggal  abadi. Akhiratlah   yang   merupakan   tempat   tinggal   abadi.   Sesungguhnya   kematian   menanti   setiap   saat, karenanya  orang  yang  cerdas  dan  berakal  adalah  orang  yang  menyiapkan  bekal  di  dunia  untuk keperluan  di  akhirat  sehingga  beroleh  derajat  yang  tinggi  di  sisi  Allah  dan  kebahagiaan  melimpah  di surga.  Jika  pendidikan  pada  masa  anak  baik,  maka  akan  berkesan  dan  berpengaruh  kuat  di  dalam hatinya laksana tulisan di atas batu.

 

Sumber Pustaka : Al Ghazali, Metode Menaklukkan Jiwa – Perspektif Sufistik, Penerbit Mizan, 2001.

 

Artikel ini disimpan dalam koleksi materi Parenting di
Sekolah Islam Terpadu Mutiara Rahmah Balikpapan

www.mutiararahmah.com