GEMBIRA BELAJAR

bersama AYAH & BUNDA

 

Sabtu pagi, 14 Januari 2012 yang lalu, sebanyak 90 wali murid SDIT. Mutiara Rahmah bersama dewan guru dan beberapa siswa, hadir dalam acara seminar parenting psikologi dan pendidikan. Bertempat di Lantai 2 Restoran Simpang Raya Damai, acara yang digarap oleh Pengurus Komite SDIT. Mutiara Rahmah ini mengambil tema “Lebih Sabar dan Istiqomah, Mendampingi Anak Belajar di Rumah” dengan narasumber Ibu Hj. Rosyidah Carum, S.Psi, Psikolog, dari Biro Psikologi PKBI Balikpapan.

Dalam seminar ini, Ibu Ida, demikian sapaan akrabnya, menekankan tentang pentingnya peran orang tua dalam membantu anak belajar di rumah. Sesibuk apa pun orang tua, sangat dituntut untuk meluangkan waktu bersama sang anak dalam memahami pelajaran sekolahnya. Ada beberapa alasan mengapa anak perlu ditemani orang tua saat belajar:

  • Karena mendidik anak bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah semata

  • Untuk membantu meningkatkan nilai akademik serta kualitas intelektual anak

  • Untuk meningkatkan gairah belajar anak

  • Untuk mengetahui kurikulum dan kapasitas anak dalam memahami pelajarannya.

Sudah pasti anak akan lebih senang saat didampingi belajarnya dan akan menilai ayah-ibunya sebagai orang tua yang baik. Menurut Ibu Ida, orang tua yang baik adalah yang bisa:

  • Menimbulkan rasa bahagia bagi anak dan diri mereka sendiri.

  • Mengembangkan anak secara utuh, baik dalam perkembangan fisik, psikologis maupun spiritual.

Mengenali, mengembangkan, serta memupuk potensi anak dan diri mereka.

Dengan demikian, orang tua, guru, rumah, dan sekolah adalah kesatuan yang utuh dalam proses belajar anak. Mereka saling melengkapi dan saling mendukung.

Namun demikian, banyak di antara orang tua yang kesulitan dalam mendampingi anaknya belajar, sehingga akhirnya memilih untuk membiarkan anak belajar sendiri, atau membiarkan sang anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Ada pola asuh orang tua yang harus diwaspadai dan harus dihindari, yakni:

  • Tidak konsisten
    Orang tua tidak mempunyai aturan atau tuntutan sama. Orang tua dan guru tidak mempunyai aturan atau tuntutan yang sama.

  • Perfeksionis
    - Tuntutan untuk selalu sempurna dan “top scorer”.
    - Kompetisi selalu diartikan kemenangan

  • Permisif
    Tidak ada aturan atau tuntutan sama sekali

  • Penuh kritik
    Orang tua terfokus pada kekurangan anak saja.

  • Menganggap anak sebagai sesama dewasa
    Orang tua berbagi masalah tanpa mempertimbangkan tingkat kematangan anak.

  • Menanamkan rasa bersalah
    Orang tua menyalahkan anak untuk semua hasil perbuatan, tanpa merinci proses sebab dan konsekuensi perbuatan tersebut.

  • Menjadi model yang buruk
    Reaksi orang tua akan menjadi contoh bagi anaknya (orangtua yang mudah cemas akan membuat anak mudah cemas, orang tua yang menyepelekan prestasi akan membuat anak meyepelekan prestasi juga).

  • Menyepelekan pengalaman negatif anak
    Orang tua menganggap remeh rasa frustasi, ketakutan, kekhawatiran anak, dan tidak membantu anak untuk memahami apalagi mendukungnya.
     

Menjadi figur terbaik bagi anak adalah idaman tiap orang tua, jadi sudah menjadi keharusan kita sebagai orang tua untuk berusaha menjadi yang terbaik bagi anak-anak. Berkaitan dengan prestasi belajar anak, maka upaya yang perlu dilakukan orang tua antara lain:

  • Jeli mengenali masalah sedini mungkin
    Keterlibatan dan komunikasi yang efektif menjadi sarana mengenali masalah sedini mungkin.

  • Memperhatikan kesehatan dan asupan gizi yang sehat
    Memperhatikan kesehatan artinya mengenali kondisi umumnya, kebutuhan istirahat, mewaspadai keadaan yang dapat mengancam perkembangan fisik dan psikologis, kebutuhan gizi.

  • Menumbuhkan rasa aman secara psikologis
    Anak mengetahui bahwa orang tua berada di sisinya, mengenali kebutuhan, kekurangan, kelebihan, mendukung, menghargai upaya, meluruskan, mengarahkan, memberi aturan dan konsekuensi darinya.

  • Menghargai upaya
    Penghargaan akan upaya anak akan menumbuhkan motivasi pada anak tanpa terpaku pada hasil semata, yang pada saatnya akan memantapkan motivasi untuk berprestasi.

  • Mengembangkan komunikasi yang efektif
    Komunikasi yang efektif bukan hanya saling berbicara. Orang tua dan anak saling mendengar dan saling menyampaikan pesan secara tepat. Sehingga apa yang disampaikan sama maknanya dengan yang didengar.

  • Mencintai tanpa syarat (unconditional love)
    Mencintai dengan menerima segala kelebihan dan kekurangan anak.

  • Mengasihi namun bukan mengasihani
    Mengasihi artinya memupuk kelebihan & mensuport kekurangan anak, ini akan mengantar anak untuk berkembang. Sedangkan mengasihani semata berfokus pada kekurangan anak dan niatnya membantu naman dampaknya anak tidak berkembang.
     

Di bagian penutup seminar, Ibu Ida berbagi tips dengan para orang tua yang hadir agar menemani anak belajar di rumah jadi menyenangkan. Berikut tips beliau:

  • Kenali program pembelajaran

  • Susun rencana

  • Mengkondisikan suasana belajar

  • Beri penghargaan

  • Bersikap positif

  • Ciptakan cita rasa kesuksesan

  • Kenali gaya belajar anak

  • Berdo’a.

(AF)

 

 











Artikel ini disimpan dalam koleksi materi Parenting di
Sekolah Islam Terpadu Mutiara Rahmah Balikpapan

www.mutiararahmah.com