MEMAHAMI BERBAGAI ASPEK-ASPEK BERCERITA

Oleh : Kak Bimo (http://kakbimo.wordpress.com)

 

Pendahuluan

 

Di Inggris konon pernah diadakan penyebaran angket kepada orang-orang dewasa. Kepada mereka ditanyakan pada saat apa mereka benar-benar merasa bahagia di masa kanak-kanan dulu. Jawaban mereka : “Pada saat orang tua mereka membacakan buku atau Cerita” Apabila pertanyaan yang sama diajukan kepada orang-orang dewasa di Indonesia, saya kira jawabannya tak akan jauh berbeda. Bahkan, khusus mengenai cerita, sampai orang sudah dewasapun masih tetap menggemarinya. Tengoklah obrolan kita juga akan semakin ‘renyah’ bila kita saling bercerita dengan penuh semangat. Cerita memang ‘gurih’. Semua orang tak pandak usia, menyukainya …… Cerita atau dongeng, sih? Lazimnya memang orang lebih banyak mengaitkan dongeng dengan cerita-cerita klasik atau cerita rakyat, atau cerita-cerita fiktif dengan latar cerita yang berbau ‘zaman dahulu kala’. Tidak heran bila ceritanya banyak dimulai dengan kata-kata klasik : pada zaman dahulu kala …., Dulu, disuatu desa…, dan lain-lain. Untuk cerita-cerita rakyat yang sudah sangat terkenal kita biasa mengenalnya sebagai legenda. Sedangkan cerita pengertiannya lebih luas, mencakup segala macam, baik yang ber-settingPertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Cerita-cerita yang kita dengar dimasa kecil masih bisa kita ingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita manuasi diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui, sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus dikhotbahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan. Kita malah merasa dongkol. Apalagi bila nasehat itu nadanya cenderung merendahkan harga diri kita. Uraian diatas menggambarkan bahwa cerita sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Konsekwensinya, setiap pendidik yang peduli pada pembentukan kepribadian yang luhur, harus ‘merasa ikut diperintah’ oleh Tuhan untuk banyak-banyak bercerita, sebagaimana Tuhan memerintahkannya kepada para Rasul . Terlebih-lebih bagi para Ibu, yang memang memiliki posisi strategis sebagai kaum pendidik. Saya kira, secara demikian saya berani mengharuskan kepada setiap Ibu untuk belajar bercerita. Penguasaan terhadap keterampilan ini sangat urgen bagi Ibu, terutama dalam menjalankan peran pokoknya sebagai pendidik generasi.  masa lalu, masa kini, bahkan mungkin masa yang akan datang (cerita futuristik). Cerita juga mencakup kisah-kisah sejarah yang benar-benar pernah terjadi maupun cerita-cerita rekaan, cerita fiktif. Baiklah, agar terasa lebih luas cakupannya, untuk selanjutnya saya akan lebih banyak memakai istilah ‘cerita’ saja. Bercerita adalah metode kominikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi banyak sekali cerita-cerita, sebagai diulang-ulang dengan gaya yang berbeda. Tuhan memang mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci, Karena Dia adalah dzat yang Maha tahu akan jiwa manusia, mengetuk hati manusia antara lain dengan cerita-cerita. Karena ini adalah metode yang sangat efektif untuk mempengaruhi jiwa manusia. Cerita yang berkesan memang selalu menarik perhatian manusia. Mengingat begitu besarnya perhatian Tuhan pada metode bercerita ini, tentu terbersit pertanyaan dihati kita, mengapa metode cerita itu efektif sekali ? jawabannya tidak sulit.

 

Fungsi Cerita bagi Pendidikan anak-anak

 

Kedudukan strategis cerita dalam dunia pendidikan, termasuk menurut sudut pandang moralitas, telah tergambar dengan amat jelas diatas. Cerita memang banyak sekali manfaatnya bagi anak-anak. Paling tidak cerita mempunyai beberapa fungsi penting antara lain :

 

1.         Sebagai sarana kontak batin antara pendidik (termasuk orang tuanya) dengan anak didik.

 

2.         Sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan moral atau nilai-nilai ajaran tertentu.

 

3.         Sebagai metode untuk memberikan bekal kepada anak didik agar mampu melakukan proses identifikasi diri maupun identifikasi perbuatan (akhlaq).

 

4.         Sebagai sarana pendidikan emosi (perasaan) anak didik

 

5.         Sebagai sarana pendidikan fantasi/imajinasi/kreativitas (daya cipta) anak didik.

 

6.         Sebagai sarana pendidikan bahasa anak didik

 

7.         Sebagai sarana pendidikan daya pikir an anak didik

 

8.         Sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman batin dan khasanah pengetahuan anak didik.

 

9.         Sebagai salah satu metode untuk memberikan terapi pada anak-anak yang mengalami masalah psikologis.

 

10.     Sebagai sarana hiburan dan pencegah kejenuhan.

 

Melalui cerita-cerita yang baik, sesungguhnya anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa cerita ternyata menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian anak-anak. Cerita secara faktual erat sekali hubungannya dengan pembentukkan karakter, bukan saja karakter manusia secara individual, tetapi juga karakter manusia dalam sebuah bangsa. Tidak heran bila banyak pakar kebudayaan yang menyatakan bahwa nilai jati diri, karakter dan kepribadian sebuah bangsa, dapat dilihat dari cerita-cerita rakyat yang hidup dibangsa itu. Kalau begitu, jelas bercerita bukanlah sesuatu yang berakibat sederhana. Cerita berpengaruh amat besar dalam jangka panjang, sampai-sampai dikatakan menjadi faktor dominan bagi bangunan karakter manusia disuatu bangsa.

 

Jenis-jenis Cerita

 

Sebel