ISRO' - MI'ROJ DAN TADABBUR ALAM
MUTIARA RAHMAH

Alhamdulillah, kita patut sangat bersyukur kepada Allah Swt. Peringatan Isro-Mi'roj dan dan kegiatan Tadabbur Alam (IMTA) Mutiara Rahmah telah terlaksana dengan sukses, lancar dan seru. Hari ini Kamis, 6 Juni 2013, tanggal merah di kalender memperingati Isro' dan Mi'roj.

Kegiatan IMTA ini menerapkan konsep integrasi antara Isro'-Mi'roj dan Tadabbur Alam, suatu konsep yang baru pertama kali diterapkan. Biasanya, di tahun-tahun sebelumnya, kedua kegiatan itu dilaksanakan terpisah.

Disebut terpadu (integral) karena setelah para siswa dibekali ilmu dan sains tentang Isro' dan Mi'roj, mereka kemudian langsung mencoba merasakan bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dalam berdakwah, dengan cara menjelajah berjalan kaki dari sekolah yang dilambangkan sebagai Masjidil Harom di Mekkah, menuju lokasi Sentra Lele yang digambarkan sebagai Masjidil Aqsha di Palestina.

Dalam perjalanan sejauh 1,8 kilometer ini, para siswa berhenti istirahat di suatu lokasi yang digambarkan sebagai Madinah, lalu berhenti yang kedua di puncak Bukit Cinta yang digambarkan sebagai Bukit Tursina, dan berhenti terakhir di Gedung Olahraga yang digambarkan sebagai Baitul Laham Palestina.

Madinah, Bukit Tursina dan Baitul Laham adalah 3 tempat yang menjadi tempat persinggahan Rasul ketika melakukan Isro' dari Mekkah ke Palestina.

Diawali dengan Taushiyah Isro-Mi'roj

Kegiatan diawali dengan Taushiyah yang disampaikan oleh Bp. Abdul Fatah, S.Pd di Musholla mulai 07.30 sampai 08.30.

Taushiyah disajikan secara multimedia dengan bahan presentasi Power Point dan Google Earth.

Presenter mengawali dengan kisah sebelum terjadinya Isro-Mi'roj, yaitu hal-hal menyedihkan dan musibah yang menimpa Nabi Muhammad SAW.

Kemudian datangnya Jibril bersama buraq yang kemudian ditunggangi oleh Muhammad terbang menuju Palestina. Presenter merinci apa-apa saja yang terjadi selama perjalanan Isro' ini.

Di bagian akhir presentasi, Bp. Abdul Fatah menyajikan bola bumi dari Google Earth yang menampilkan lokasi Mekkah hingga Palestina dan rute perjalanan dari sekolah ke Bukit Cinta untuk Tadabbur Alam.

Lebih lengkap dan kronologis, tentang perjalanan Isro-Mi'roj silakan klik disini.

Alhamdulillah, semua siswa tekun mendengarkan presentasi hingga akhir dan semoga hikmah Isro-Mi'roj yang disampaikan dapat mereka pahami dan amalkan.

Menjelajah sambil Bertadabbur

Kemudian semua siswa berbaris membentuk kafilah-kafilah:

  1. Kafilah Ibnu Sina (kelas 1) dipimpin oleh Bu Sumi

  2. Kafilah Ibu Rusydi (kelas 2) dipimpin oleh Bu Lisa

  3. Kafilah Al-Khindi (kelas 3A) dipimpin oleh Bu Hamimah

  4. Kafilah Al-Farobi (kelas 3B) dipimpin oleh Bu Ika

  5. Kafilah Ibnu Kholdun (gabungan 4A dan 4B) dipimpin Pak Edi

  6. Kafilah Al-Birruni (kelas 5) dipimpin Bu Utami

  7. Kafilah Al-Khowarizmi (kelas 6) dipimpin Pak Fajar

Semuanya berjalan beriringan menuju 'Palestina' sambil mengumandangkan sholawat selama perjalanan. Mereka membayangkan naik kendaraan buraq ber-isro'.

Dalam perjalanan 1,8 km ini, siswa naik Bukit Cinta dan menuruninya. Melewati hutan dan melihat pemandangan Kota Balikpapan dari puncak bukit. Pak Edi dengan megaphone-nya berusaha memberi tadabbur kepada semua siswa. Mengajak mereka bersyukur kepada Allah yang sudah menciptakan pohon, tanaman, binatang dan alam semesta begitu indah dan penuh manfaat.

Begitu asyiknya menjelajah sambil bersenda gurau, tanpa terasa mereka sudah sampai di 'Palestina' yaitu lokasi Sentra Lele Bukit Cinta.

Mengamati dan Memberi Makan Ikan

Sentra Lele Bukit Cinta merupakan daerah lembah yang penduduknya banyak membuat kolam dan membiakkan ikan lele serta ikan patin. Kedua jenis ikan ini yang sangat laris dijual di pasar. Tentu saja sentra produksi ini berhasil mengangkat ekonomi penduduk Bukit Cinta.

 

Nah para kafilah yang datang beristirahat dulu di 'Baitul Laham' yakni gedung olahraga di Bukit Cinta yang hampir jadi (atapnya belum ada). Di dalam gedung ini (mereka lesehan bersama guru-guru) mendengarkan penjelasan dan aturan dari Pak Hakim. Pak Hakim inilah yang menjadi ketua Sentra Lele Bukit Cinta. Pak Hakim juga guru di Mutiara Rahmah, lho.

Kemudian kafilah berbaris lagi, dan beriringan menuju kolam-kolam. Pak Hakim memimpin dan mengarahkan. Siswa-siswi diberi butiran pakan ikan untuk ditebarkan di kolam-kolam yang berisi ribuan lele dan patin. Sungguh asyik dan seru, melihat ribuan ikan berlompatan menyambut makanannya.

Lomba Menangkap Ikan Lele Jumbo

Langit cerah dengan sedikit awan mendung. Ini acara puncak yang sangat ditunggu para siswa. Mereka menuju kolam khusus yang sudah disiapkan. Air dalam kolam cukup dangkal, dan lihat ! Ikan-ikan lelenya besar-besar, ada yang sebesar lengan orang dewasa. Waduh, para siswa jadi ragu dan takut.

Tapi Pak Hakim berhasil meyakinkan mereka untuk tidak kuatir karena menurutnya, ikan-ikan lele ukuran jumbo ini cukup jinak. Ada sekitar 60 ekor katanya.

Nah, tanpa pikir panjang lagi, anak-anak melepas sepatu dan kaus kakinya, menyingsingkan lengan dan celana panjangnya, lalu nyemplung kolam.

Pak Fatah mencoba mengatur siswa yang boleh masuk kolam dengan urut dari kelas 1 dulu. Tapi anak-anak kelas lain sudah sangat tak sabar.

Lele-lele begitu gesit dan licin, menolak ditangkap oleh anak-anak. Awalnya tak seorang pun yang berhasil menangkap. Sampai kemudian Pak Hakim ikut masuk kolam dan memberi contoh cara menangkap lele dengan tangan kosong. Pak Edi pun tertantang, ia ikut masuk kolam. Sementara Pak Fajar dan Pak Afif sibuk foto-foto dan shoot video.

Alhasil, teknik Pak Hakim memegang lele dimengerti anak-anak dan dimulailah petualangan yang menegangkan. Lucu, seru ! Mereka bergumul dengan lele besar berusaha mengalahkan licin kulitnya. Ada anak yang terlihat frustasi karena gagal terus. Yang berhasil menangkap lele langsung memasukkannya ke dalam kotak foam yang disiapkan Pak Hakim.

Kolam berukuran sekitar 5 x 7 meter ini kini penuh sesak dengan anak-anak, campur dari kelas 1 sampai 6. Mereka berteriak-teriak riuh rendah. Sesekali menjerit karena takut pada lele atau didorong temannya hingga basah kuyup.

Dari pengamatan saya, anak-anak yang paling berhasil dan banyak menangkap lele adalah Farhan (kelas 3) dan Fira (kelas 4).

Sementara Seruni teriak-teriak saja takut pada lele, tapi dia nekat saja masuk kolam. Yang masih gagal menangkap lele akhirnya melepas kaos olahraganya lalu memanfaatkann